Suatu Hari Nanti, Aku akan Menungganginya!

Darman melirik jam di tangannya. Sebuah jam KW yang biasa ditemui di ITC itu menunjukkan jam 11. 05. Darman menoleh ke belakang dan mencolek Agus yang sedari tadi awas melihat tombol-tombol yang berkedap-kedip di depannya.

“Gus, coba kamu bilang sama Hadi, suruh penumpang siap-siap. Kita sebentar lagi tiba di stasiun……”

Agus mengangguk tanpa berkata apa-apa dan segera meninggalkan gerbong masinis, menyisakan Darman sendiri.

Darman mengeluarkan dompetnya. Diambilnya sebuah foto dari dompetnya yang sudah usang. Darman tersenyum melihat foto di tangannya. Sebuah foto Darman kecil dan bapaknya yang sedang memegang mainan kereta.

Tiba-tiba mata Darman terbelak. Sesuatu membuatnya kaget. Darman segera berteriak memanggil Agus sembari memencet tombol klakson di gerbong masinis itu.

***

Bunyi bel di perlintasan kereta api berbunyi di pagi yang cukup lenggang. Raungan tangis Darman kecil dalam sebuah mobil angkutan umum membuat penumpang lain gelisah. Suroto, bapak Darman, mencoba menenangkan anaknya yang menangis semakin kencang.

“Sudah jangan menangis nak, nanti hari Sabtu besok bapak ajak kamu ke Taman Ria yah!” Suroto  mengelus-elus kepala Darman dengan kasih sayang.

“Aku nggak mau sekolah Pak!” suara tangisan Darman kecil semakin menjadi.

“Tapi kamu kan harus sekolah, anak pintar! Ini hari pertama kamu sekolah.” Biasanya tatapan penuh cinta Suroto mampu melelehkan hati siapa saja, tapi tidak hati anaknya hari ini.

Darman kecil yang menangis semakin keras tiba-tiba melepaskan pelukan bapaknya dan berlari keluar mobil angkutan umum. Suroto yang kaget langsung keluar dari mobil angkutan mengejar Darman kecil. Darman kecil berlari diantara mobil-mobil yang berhenti menunggu kereta lewat, membuat Suroto tertinggal dan kehilangan jejak. Suroto semakin panik kehilangan jejak Darman kecil, kepalanya sibuk melihat ke kanan-kiri tanpa henti, mencari si buah hati yang hilang berlari.

Kereta api lewat di perlintasan itu. Suroto pun menemukan Darman kecil sedang berdiri tepat di depan palang pintu rel kereta api tersebut.

Darman kecil terdiam seperti terhipnotis oleh kereta api yang lewat. Matanya seakan tidak berkedip memperhatikan puluhan jendela kereta api yang lewat dengan cepat. Suroto memanggil nama Darman kecil dari kejauhan, tapi telinga Darman kecil seakan tidak mendengar apapun selain suara besi yang bersinggungan antara roda dan rel kereta. Angin berhembus meniup rambut Darman kecil terbang mengikuti arah kereta pergi.

Hari itu Darman kecil jatuh cinta pada makhluk yang baru pertama kali dia lihat dihidupnya.

“Suatu hari nanti, aku akan menungganginya!”

 

*bersambung karena udah ngantuk banget pas nulis*

Advertisements

~ by tukangbikinfilm on January 24, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: