Surat untuk: @Lalitia, My First Crush

•January 31, 2012 • 1 Comment

SURAT CINTA UNTUK CINTA MASA KECILKU

Suatu hari di pertengahan tahun 1996 bertempat di salah satu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di bilangan Cikini ada seorang kurus, pendek, berkacamata bulat, berambut belah tengah, kulit kehitaman, dan dengan gigi tonggos yang kemana-mana selalu ditemani oleh 3 sahabat yang tidak jauh cupunya secara penampilan. Bajunya kebesaran, celananya kependekan, tapi sepatunya up to date banget, dia memakai LA Gear dan juga jam G-Shock (sebelum akhirnya ilang entah kemana). Betul, bocah tengil lagi polos tadi itu adalah aku.

Ini adalah hari pertama sekolah, dan aku yang masuk dengan status cadangan tidak langsung mendapatkan kelas. Di hari pertama aku ditempatkan sementara di kelas 1-4. Karena masuk kelas terakhir akupun harus menerima duduk di kursi ‘sisa’ yaitu duduk disebelah murid asal Papua bernama Sam. Untuk beberapa hari kedepan kita berdua menjadi bahan bully karena dia yang ‘berbeda’ dan aku yang ‘cupu’ sampai akhirnya guru Bahasa Indonesia kelas itu Ibu Aisha akhirnya menyelamatkanku dengan mengatakan: “Rizki, kamu pindah ke kelas Ibu di 1-5 yah!!”

Dengan penampilan bullyable dan minimnya pergaulan (gue berasal dari SD Swasta yang muridnya cuma kurang lebih 20 orang dan selama 6 tahun kita tuh sekelas terus), masuk ke sekolah negri yang rata-rata muridnya 40 orang/kelas memang terasa agak menakutkan. Dan lagi-lagi aku harus menerima tempat duduk sisa di kelas baruku ini. Awalnya aku lupa duduk bersebelahan dengan siapa dan di mana, but somehow aku menghabiskan tahun pertama di SMP terjebak duduk bersama Bayu si kemayu (#rhyme), yang secara kelakuan mirip sekali dengan Olga Syahputra. Aku duduk kedua dari depan, di depanku duduk Yani si juara kelas, bersama hmmmm….. hmmmm….. (jujur gue lupa ini namanya siapa), dan kamu duduk bersama Rossy (kalau nggak salah) persis tepat di belakang mejaku. Ya, Tuhan memang baik sekali menempatkan kamu duduk di dekat aku.

Bagaimana Tuhan tidak baik? Aku diberi tempat duduk dekat dengan Lalitia Apsari, perempuan yang pintar, cantik, dan supel (iya, kata supel itu lame, tapi gue nggak bisa nemu kata yang pas lagi buat ngegambarin ini. :D). Sesuatu yang sangat berlawanan dengan aku saat itu. Dengan rambut sepundak, kulit yang putih, sesekali memakai kaca mata (ini gue agak lupa. Tapi seinget gue, elo emang sesekali pake kaca mata), memakai kawat gigi, dan memiliki senyum renyah seperti Cameroon Diaz, you make me realize that I have a crush for you, my first ever crush.

Ada beberapa kejadian-kejadian yang aku ingat waktu sekelas dengan kamu di kelas 1-5. Aku inget jaman itu di bioskop lagi muter film Space Jam dan aku sempat tertukar nyebut Lola Bunny dengan Lalit Bunny (something stupid). Terus hari sabtu abis penurunan bendera (kita masuk siang waktu kelas satu) Bayu teman sebangku aku buang air besar di celana dan entah kenapa tertuduh pertama saat itu adalah aku dan kamu yang nunjuk aku sampai akhirnya celana putih Bayu mulai berubah warna jadi kecoklatan.

Tanpa aku sangka, Tuhan ngasih aku waktu satu tahun lagi untuk sekelas sama kamu. Iya, kita sekelas lagi di kelas 2-8. Tapi kali ini kamu duduk agak jauh dari tempat dudukku. Ada beberapa hal yang cukup aku ingat di kelas 2 ini. Pertama, aku satu jemputan ketika pulang dengan Hakim, bocah ganteng yang banyak digilai perempuan-perempuan saat itu, dan aku tau kalian dekat. Jadi suatu hari beberapa teman sejemputan kelepasan bilang kalo aku suka sama kamu di depan Hakim. Tapi bukannya membully, Hakim malah dengan baik hatinya memberikan photo box kamu ke aku. Foto yang langsung menghiasi dompet aku sampai akhirnya teman sebangku aku Fachrurozi (yang juga suka sama elo) mencuri diam-diam dari dompetku. Seingat aku, Hakim dan kamu pun pernah jadian yah waktu kelas 2? Yang aku ingat setiap istirahat Hakim selalu main ke kelas dan kalian duduk di tempat duduk kamu, kursi paling depan, paling kanan dan paling dekat dengan pintu.

Ga banyak lagi sih yang aku ingat dari kamu, secara saat itu aku lebih sering berpacaran dengan game dan komik daripada bergaul dan mencoba mendekati kamu. Cuma aku sempat beberapa kali bertemu kamu ketika SMA, ketika aku sedang main ke SMA 8. Yang aku ingat kita berpapasan di pintu gerbang sekolah, kamu saat itu sepertinya sedang menunggu sesuatu/seseorang sampai akhirnya aku melayangkan senyuman ketika melewati kamu. Jujur aku masih belum punya keberanian untuk menyapa kamu saat itu.

Selepas dari SMA aku benar-benar tidak pernah bertemu lagi dengan kamu. Aku cuma mendengar dari teman-temanku kalau kamu kuliah di Arsitek UI. Sampai akhirnya tanpa sengaja aku berpapasan dengan kamu di escalator Fx ketika acara Social Media Festival. You haven’t change a bit. In my memories, you’re still Lalitia that I know from Junior High.

I don’t know if you ever notice or remember any of this, but thank you for being my first crush.

Rizki Januar Saputra

Advertisements

Surat ke #2: salam kenal Perempuan Hujan

•January 24, 2012 • 3 Comments

Hai kamu yang aku kenal sebagai Perempuan Hujan, terima kasih telah mengirimkan surat untukku. Jujur aku tidak menyangka akan ada yang mengirimkan aku surat kaleng, terlebih kemudian kamu menulis lagi dua surat selanjutnya untukku. Dua hari terakhir agak mengejutkan karena sekarang ini kamu sudah mulai menggunakan blog dan akun Twitter sendiri untuk menuliskan surat kepadaku, membuat aku tertarik dan tertantang untuk mencari tau siapa kamu.

Kalau aku boleh sotoy (aku emang anaknya sotoy), aku sebenernya bisa-bisa aja menebak siapa kamu. Because I’ve been narrow down some fact here, the way you write, and another pretty little details about you. And you know what, it leaves me with 2 people who can be you. Tetapi kalau kamu tidak mau mengaku bahkan ketika aku menebak siapa kamu, itu tandanya kamu memang tidak ingin ditemukan, dan aku akan menghargai itu. At least sampai kamu menyelesaikan 30 suratmu. Boleh yah? (yes, aku balikin kata-kata kamu).

By the way, kamu beneran tau siapa yang sedang aku taksir belakangan ini? Apa cuma sotoy aja? Kok kamu bisa tau perempuan yang sedang aku taksir belakangan ini? What make you say that? Dari mana kamu tau kalau aku sedang suka dengan wanita itu? Aku tidak pernah menunjukkan sama sekali kekagumanku terhadap wanita itu kepada siapapun. Bahkan di dunia ini hanya ada 2 orang yang tau bagaimana perasaanku kepada wanita itu. Lalu tiba-tiba kamu hadir secara anonimus dan mengatakan kamu tau siapa yang aku taksir. Hmm… Aku jadi berfikir ulang lagi.

Ah sudahlah, nanti kita lanjutkan lagi obrolan kita, aku tidur dulu yah. Sudah jam 6 pagi dan aku harus meeting nanti siang di Depok. Pokoknya aku tunggu surat-surat kamu berikutnya.

Have a nice day, Perempuan Hujan…

Surat ke #1: Untuk Sahabat

•January 23, 2012 • 2 Comments

Hai sesuatu yang selalu aku sebut sahabat, apa kabarmu hari ini? Tidak pernah aku kira, kita yang tinggal berdekatan dan dulunya selalu menghabiskan waktu bersama ini sudah lama sekali tidak saling tegur dan sapa. Jujur bukannya aku sudah tidak memikirkan kamu lagi, bukannya aku tidak ingat atas setiap pembicaraan yang selalu kita habiskan bersama berjam-jam. Justru aku kangen kita saling berbicara bersama membahas mulai dari rindu, cinta, konspirasi, sampai dengan kiamat. Tapi aku masih takut untuk memulai pembicaraan semenjak kejadian itu dulu.

Masih marahkah kamu kepada aku? Masih bencikah kamu atas apa yang telah aku perbuat kepadamu, kepada kita dulu? Atau kamu masih marah kepada Tuhan yang telah mengutukmu, mengutuk kita atas segala perbuatan yang kita lakukan dahulu? Kalau saja kamu mau mendengarku sejenak, sebenarnya Tuhan tidak mengutuk kita, Tuhan justru memberikan jalan yang terbaik untuk dia, maupun untuk kita.

Bukankah kamu yang dulu selalu mengajarkanku tentang arti ikhlas? Mengajariku cara mencari arti dari segala keputusan yang Tuhan berikan kepada hamba-hambanya? Mengapa sampai hari ini justru kamu yang malah sulit untuk mengikhlaskan kejadian itu? Iya aku tau, kamu sakit karena sebelumnya belum pernah ada seseorang yang begitu berani menyakitimu, terlebih orang itu adalah orang yang sangat kamu sayangi.

Aku tau kita memang tidak selalu sejalan, bahkan kita sering bertengkar. Tapi itulah yang membuat kita berbeda, itulah yang justru membuat kita dekat, membuat kita sering berdiskusi, membicarakan segalanya. Lantas mengapa semenjak kejadian itu kamu diam membisu? Tertidur dalam waktu yang lama, berpura-pura seakan-akan kamu sudah mati. Tidakkah kamu memikirkan keadaanku saat kamu tinggalkan? Tidakkah kamu lihat apa yang terjadi padaku semenjak kamu pergi? Sepi, sendiri…

Kini sudah 3 tahun berlalu semenjak kejadian itu, dan kamu masih saja tidak mau berbicara lagi kepadaku. Apa kiranya yang harus aku lakukan agar kamu mau kembali berbicara denganku?

 

Ketika, waktu tlah menciptakan cerita tentang kita

Mestinya, semua indah kini yang terasa

Sejujurnya kadang akupun tak mengerti, peran apa yang kita jalani

 

Seindahnya dunia ini takkan seindah bila kumilikimu dan kumilikmu

 

Bila memang bukan kita yang tentukan kemana arah cinta ini kan membawa

Berikanlah aku, satu jalanMu Tuhan

Agar aku mengerti apa yang kita jalani, kini…

 

Bilakah waktu tlah menentukan saatnya

Saat-saat untuk bersama, saat-saat kita jelang bahagia

Percayalah sayang bukan aku tak sayang, bila cinta tak mampu bertahan

 

Seindahnya cinta ini takkan seindah bila kumilikimu dan kumilikmu

 

Bila memang bukan kita yang tentukan kemana arah cinta ini kan membawa

Berikanlah aku, satu jalanMu Tuhan

Agar aku mengerti apa yang kita jalani

 

Tetaplah tersenyum, yakinlah waktu kan tentukan saatnya

Aku dengan mu…

Maliq & D’Essential – Dan Ketika

 

Sekarang dengarkan baik-baik lagu itu dan coba kau ingat ketika kita sama-sama menangis mendengar dan meresapi lirik lagu tersebut. Membuat kita seolah-olah saling berpelukan dan melebur jadi satu oleh lagu. Lalu kemudian lagu itu menjadi ‘kado’ terakhir yang dia berikan kepada kita, sebuah tanda perpisahan antara dia dan kita. Perpisahan yang terjadi karena aku dengan kesombonganku justru memaksamu untuk diam dan tidak menyadari ada yang salah dengan kita. Membuat dia pergi dengan laki-laki lain yang lebih mengerti dan lebih mencintai dia dibandingkan kita.

Sekali lagi maaf. Maaf apabila kesombonganku membuat kita ditinggalkan oleh wanita yang saat itu kita beri gelar ‘calon istri’. Maaf apabila aku terlalu membiarkanmu larut dalam kesedihan hingga bertahun-tahun. Maaf bila aku tidak mampu menyapamu langsung, melainkan melalui surat ini. Lagi-lagi aku menyalahkan kesombonganku yang membuat aku menjadi lemah seperti ini.

Aku tau kamu mendengarku. Aku tau kamu akan membaca surat ini. Dan aku tau kamu belum mati. Aku tau kamu hanya terlalu berhati-hati, Hati.

 

Surat untuk: Hati. Sebuah sanubari yang hampir mati.

 

Surat dari: Logika. Sahabat yang merindukan sentuhan dari Hati

Weedding: Rush. part I

•September 16, 2011 • Leave a Comment

Siang ini Jakarta tampak panas sekali, membakar kulit setiap orang yang terkena langsung sinarnya, membuat para wanita tampak tetap hitam walau habis dilulur berulang kali. Seharusnya kau segera pindah ke kota lain selain Jakarta semenjak berjuta-juta orang bukan asli Jakarta penuh sesak menginjakkan kaki di kota ini.

Sebenarnya tidak akan jadi masalah kalau orang-orang itu semua memakmurkan dan juga menjaga kampung halamanku ini, bukannya malah memenuhi dan jadi sampah masyarakat disini, cuma membuat kota ini jadi sesak dan semakin panas. Belum lagi kelakuan-kelakuan para manusia gila materi, korupsi, kebodohan, daerah bebas Tuhan, dan carut-marut lainnya. Dengan semakin hari semakin panas, sepertinya Tuhan sudah membuka sedikit pintu nerakaNya untuk gladi resik nanti di akirat.

11.11

Seperti es yang mencair, bajuku basah akan keringat yang sedari tadi mengucur deras. Handuk yang sedari tadi aku kalungkan di leher tampak sudah tidak menyisakan bagian yang masih kering. Aku berlari kecil kearah sebuah gedung yang terletak di salah satu kawasan elite Jakarta, tampak gedung itu dipenuhi oleh mobil-mobil mewah yang hampir semua masih baru.

Melihat penampilan yang kumal, satpampun menanyakan kemana dan apa tujuanku ke gedung itu. “Mau kemana mas?” “Gue mau ketemu Ncun, udah ada janji” kataku terburu-buru sambil melengos masuk.

Tiba-tiba tangan satpam tadi memegang pundakku. “Tunggu sebentar mas, Ncun siapa yah?” “Ncun, Ncun, si Pecun. Yang rambutnya gimbal, badannya bau, jalannya suka ngangkang kayak abis di’pake’. Dia suka tidur disini kok di belakang.” Balasku mencoba meyakinkan.

“oh si Bobby, langsung kebelakang aja mas lewat pintu samping.” Satpam tadi masih menyempatkan untuk tersenyum kepadaku.

Satpam yang baik, jarang-jarang ada satpam yang masih berkelakuan baik ngeliat orang pake baju gembel kayak gini. Biasanya mereka cuma senyum sama yang dandanannya necis atau cewek cantik doang. Cih…

11.13

“Elo kemana aja nyeet!!! Kan gue udah bilang gue ga mau megang beginian lama-lama, udah bukan umur gue lagi bandel kayak elo. Lagian udah jam segini nih, acaranya bukanya jam 11 yah?” Ncun menyambut dengan keplakan di kepala, membuatku sedikit doyong.

“Sianying, dateng-dateng udah noyor kepala gue aja lo Cun. Sini mana barangnya? Gue juga buru-buru nih”

Ncun memberikan dua gumpalan kecil seukuran kaset yang berwarnakan coklat seperti sampul buku anak SD dan sebuah kunci mobil. “Nih serepnya, sampein salam gue buat Oliv yah!!!” Aku mengangguk dan melengos pergi, sembari masuk ke sebuah mobil sedan yang masih kinclong aku teriak

“Makasih ya Nyeeett…!!!”

11.30

Macet. What can you expect from Jakarta’s traffic? Cuma antara jam 11 sampai jam 6 pagi doang Jakarta sepi. Ngepet.

Aku mengocok-ngocok kedua bungkusan yang tadi diberikan Ncun, salah satunya berisi benda keras. Aku membuka bungkusan yang empuk. Dalamnya adalah dedaunan kering, seperti tembakau hanya saja yang ini ga bikin sakit jantung, cuma yaaa mungkin bikin bloon aja. Tiba-tiba telponku mengeluarkan suara “ah… ah… ah…” (suara ringtone yang diambil dari film yang suka ditonton sama cowok yang hasratnya ga bisa disalurkan ke cewek. Entah karena jomblo, atau ceweknya yang alim)

Multitasking. <<– ini mungkin sebutan yang paling tepat buat orang yang lagi ngelinting, sembari nyetir, terus terima telpon.

“Iya, iya, ini aku juga lagi di jalan. Bentar yee…” Klik. Menghindari pembicaraan yang berbelit-belit, aku sengaja mematikan telpon itu.

Karena ribet ini itu, tanpa kusadari kuterobos lampu merah di depan. Mencoba belagak pilon, aku tetap berjalan pelan mengikuti mobil depan yang (sepertinya) juga menerobos lampu merah.

Tidak lama berselang terdengar bunyi sirene sahut menyaut diiringi dengan lampu yang berkedip-kedip. Ngepet. Aku baru ingat kalau duit di dompet tingal Rp. 15,000 saja, tidak mungkin cukup untuk menyogok polisi-polisi yang lapar akan mangsanya itu. Sejenak kuperhatikan ternyata polisi itu tidak mengejarku, mereka membunyikan sirene dan lampu tersebut hanya agar dapat menerobos lampu merah yang terkenal cukup lama itu.

“Bagus, wajar saja jika banyak orang yang berani melanggar, penegak hukumnya saja mencontohkan hal yang sama”

Weedding: the Day. part I

•September 13, 2011 • Leave a Comment

 

Yesterday is History, Tomorrow a Mystery, Today is a Gift, Thats why it’s called the PRESENT……. -unknown-

Hari hadiah, hari yang ditunggu-tunggu, semua menyambutnya dengan suka cita.

Sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu masuk rumah, dua orang berpakaian necis pun turun dari mobil tersebut. Dari cara mereka berpakaian terlihat kalau mereka merupakan pasangan, jas serba putih dan juga dress putih backless, mereka orang kaya. Rumah kecil yang terletak jauh dari keramaian kota dan terletak di lereng bukit itu pun mulai ramai oleh satu persatu tamu yang datang. Taman-taman hijau disekeliling rumah disulap menjadi warna-warni dekorasi pesta, keceriaan memenuhi rumah itu dan sekitarnya.

Tampak seorang lelaki dengan setelan jas hitam sedang mencari-cari sesuatu, dia susuri setiap sudut ruang yang sudah seperempat penuh oleh tamu. Ucapan selamat bertubi-tubi terlontar dari para tamu membuatnya berhenti sejenak, padahal acara belum dimulai sama sekali. Dilihatnya seorang wanita yang sedari tadi dicarinya, dengan menembus kerumunan tamu yang sudah datang dia hampiri wanita bergaun putih dipelaminan sedang merapihkan bunga-bunga hiasan.

”Ngapain sih udah dipelaminan? Kan acaranya belum mulai, lagian kan nanti kita akan seharian duduk disini. Yuk ikut aku, kita cari tempat sepi, ucapan selamat dari tamu udah buat aku bosan.” kata lelaki itu sembari menarik tangan wanita dengan tiba-tiba. Terkejut melihat tindakan lelaki itu sang wanita hanya tersenyum, wajahnya memerah karena malu. Mereka berdua saling berpegangan tangan berjalan kearah belakang pelaminan menuju taman menghindari tamu-tamu yang ingin mengucapkan selamat.

Tak terhitung ratusan lampu-lampu kecil menghiasi taman belakang dimana sudah tersedia sebuah panggung besar dan puluhan meja-meja yang sudah dihias dengan beragam pernak-pernik. Disinilah tempat untuk after partynya. Mereka duduk di meja yang paling dekat dengan panggung, saling berpegangan tangan dan mata mereka saling bertatapan tajam. Tanpa berbicara sedikitpun bibir mereka saling mendekat, perlahan mata mereka saling menutup. Namun tepat sebelum bibir mereka bertemu, naiklah lima orang dengan peralatan band ke atas panggung hendak melakukan check sound.

“Hey kalian yang sedang berbahagia, selamat yah!!!” Sahut salah seorang anggota band yang memegang mic. Mereka berdua melambaikan tangan kepada seluruh personil band yang tampak tersenyum kepada mereka, dan kelima pemuda itu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Mereka mengurungkan niat untuk berciuman. “Pindah yuk, ada yang ngeliatin kita tuh, aku tau tempat yang tepat.” ucap si wanita dengan nada manja. Lalu mereka kembali masuk ke rumah melewati pintu samping tanpa terlihat oleh tamu yang lain.

Sebuah pintu kamar terbuka, pasangan tersebut masuk ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur yang sudah ditaburi dengan bunga-bunga merah seperti dalam film American Beauty, disekeliling kamar itu terdapat ratusan lilin berukuran kecil maupun besar yang belum dinyalakan. Ini merupakan kamar pengantin.

“Kamu yakin disini? Sekarang? Kan nanti malam juga kita bisa….” Tiba-tiba ciuman dari sang wanita membuat dia berhenti berbicara. Mereka berciuman sembari merebahkan diri di kasur.

Si lelaki menarik tubuhnya kebelakang, menghentikan ciumannya dan berkata “wait, wait a second, I need to chill a little bit. This is too intense for me.””okay” jawab si wanita sembari merebahkan diri di kasur dan membetulkan letak bantal di kepalanya. Lelaki itu berdiri sejenak lalu mengambil sebuah lintingan yang tersimpan di dompetnya dan membakarnya.

“Kamu gila, darimana kamu dapat itu?” ujar wanita itu kaget. “Sssttt… udah kita nikmatin ajalah mumpung acara belum mulai” sembari menyodorkan lintingan yang suduh dibakar itu pada si wanita. Mereka bergantian menghisap dan saling tertawa melihat kelakuan mereka.

Sembari menghisap dalam-dalam, lelaki tersebut menyerahkan lintingan yang sudah kecil. “Ini isapan terakhir untuk kamu.” Dengan mata sembab dia menolak halus sambil membelai wajah lelaki yang masih menghisap sisa lintingannya.

Dibuangnya lintingan terakhir itu dan tangan jahil lalu bergantian menggerayangi tubuh masing-masing, mereka saling berciuman, dan mengerang halus. Jari-jemari sang lelaki mulai menerawang lebih dalam memasuki daerah-daerah yang ‘berbahaya’.

Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu berhak mendekati kamar, diiringi dengan teriakkan perempuan memanggil. “Pa, Papa!!!” “Ibu, Ibu dimana???” suara pria mengiringi panggilan perempuan tadi.

“Itu suara Olivia dan Abel!” Dengan panik pasangan yang sedang asik bercumbu itu menarik diri dan membenarkan pakaian yang mulai terbuka. Si lelaki membersihkan sisa-sisa lipstik yang masih menempel di bibirnya, sementara sang wanita membuang sisa lintingan ke kolong tempat tidur.

Pintu terbuka dan tampak dua orang yang tidak kalah rapihnya memergoki mereka berdua. “Halo Olivia, dan juga kamu… hmm… siapa nama kamu? Oh iya, mempelai pria” sahut si lelaki paruh baya dengan masih cengengesan. “Papa? Ngapain Papa disini? Udah gitu sama…” “Ibu?” Abel memotong pembicaraan Olivia.

“Tunggu, tunggu, tunggu deh… kalian berduaan, kasur berantakan, dan ini kamar pengantin. Kalian nggak macem-macem kan disini?” Abel mulai meninggikan suranya.

Wanita yang juga paruh baya itu melirik si lelaki dengan tatapan manja, sembari merapihkan rambut berubannya yang masih berantakan. Si lelaki menyeka matanya yang sembab, lalu membetulkan dasi dan jasnya yang kusut. Mereka tertawa berdua.

“hihihi… sebenernya kita ngapa-ngapain kok, kita berdua kan………”

Selamat pagi KUNING

•May 2, 2011 • 1 Comment

Pagi itu aku kembali memadangnya di depan rumah untuk kesekian ribu kalinya. Ya, semenjak gadis itu pindah kost ke depan rumahku, selalu ada saja alasan untuk bangun pagi. Si Bule, itu aku menyebutnya karena wajahnya yang indo ditambah tinggi badannya yang bukan seukuran wanita Indonesia pada umumnya.

Hari ini hari senin, dia pasti berangkat dengan rok mini dan juga topi SMA. Tinggi semampai dan juga rok mini merupakan kombinasi yang menggiurkan, ya setidaknya menggiurkan bagi lelaki yang masih berorientasi normal.

Pintu rumah kost di depan perlahan dibuka, bawaannya yang banyak merepotkan dia untuk menutup pintu kembali. Bel sekolah yang menyahut kencang semakin membuat si Bule panik, sampai-sampai dia belum sempat menutup resleting tasnya setelah mengeluarkan topi. Ya, rumahku dan kostannya berjarak dekat dengan sebuah SMA, sangat dekat sehingga bel sekolahnya terdengar hingga ke depan rumahku. Angin pagi menghebuskan topi yang hendak dipakainya, beberapa detik ketika si Bule menunduk mengambil topinya merupakan beberapa detik terindah hari itu.

sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit lagi…” beberapa senti lagi menuju pertanyaan ‘warna apa yang kau pakai hari ini?’ pun terjawab

JACKPOOTTT… Hari ini kuning

Si Bule langsung berlari kearah sekolah yang kebetulan hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari rumahku. Tasnya yang tak tertutup menjatukan salah satu buku yang lumayan besar, namun tampaknya si Bule tidak memperhatikan itu. Kuberlari kecil mengambil buku yang terjatuh dan memanggilnya.

“Hai, ini bukunya jatuh…!!! Mbak…” sepertinya dia terlalu modis dan bergaya untuk ukuran Mbak-mbak.

“Dek…” si Bule juga tidak tampak seperti adik sama sekali.

“Ooi…” kok sekarang aku malah memanggilnya seperti memanggil para fans Iwan Fals yah?

“Sorry…” Loh, aku meminta maaf kenapa yah?

“Eh BULEEE…!!!” Sedikit teriakan sepertinya akan membuat dia mendengar panggilanku. Lagipula tampaknya ini merupakan satu-satunya panggilan yang tepat, tapi kok kayak ga sopan yah?

Si Bule menengok sebentar kearahku dan berlari kembali kearahku untuk mengambil bukunya dari tanganku.

“Oh My God, thanks yah…”

Ditambah sebuah senyuman kecil dia melengos kembali berlari kearah sekolah.

Pagi ini aku mendapatkan dua hal:

Celana dalam kuning dan senyum si Bule. What a day…

🙂

#NowPlaying Sheila on 7 – Pagi yang menakjubkan

Ditulis secara mendadak di sabang 16 bersama ekaotto, frezask, dan popokman pada hari Jumat tanggal 25 Maret 2011, jam 20:17:51

Todays goodbye isnt forever goodbye

•April 29, 2011 • 2 Comments

To: Priskila Eirene

Mungkin hari ini jarak akan memisahkan kita. Saat ini benua memberi ruang kosong yang cukup besar diantara kita.

Tapi kebersamaan kita yang singkat tak akan pernah terlupa, asap rokok dan botol bir tempat kita tertawa akan menjadi saksinya.
Keberadaanmu selalu tersimpan di sudut memoriku, menunggu untuk dipanggil dan bernostalgia lagi.

2 tahun, atau 24 bulan, atau 104 minggu, atau 730 hari, atau 17.520 jam, atau 1.051.200 menit, atau 63.072.000 detik memang terdengar lama ditelinga, namun apabila kita bandingkan dengan waktu yang tak berujung, 2 tahun itu hanya menjadi segelintir angka yang akan lewat dan berlalu.

Lekaslah kembali Kila, we miss you already…

#nowplaying Spice Girls – Goodbye