Review #N5MtheMovie

Sebelumnya ini adalah review pertama yang gue upload ke blog dan review kedua yang pernah gue bikin setelah ‘the Billionaire’ yang mau gue selesain sedikit sebelum gue upload dalam waktu dekat ini.

Pagi itu gue dibangunin subuh oleh chat di whatsapp yang isinya “sampai di Bandung” oleh teman saya Cipto, and I was like “aaaahh ngantuk, apa nggak dateng aja yah hari ini nonton Negri 5 Menara di Fx” apalagi semalam gue abis pergi sampe jam 1an sama @anggadhana dah @heyechi (promosiin akun temen). Tapi janji adalah janji. Berbekal janji ke @galoeh11 dan juga nonton gratis (iyak, gue orangnya #mureee) gue pun berangkat dengan badan yang belom mandi selama 3 hari (#MalasMandiUnite). Oke, itu prolognya. Sekarang mari kita masuk ke review film Negri 5 Menara yang gue tonton dengan keadaan setengah mengantuk. Semoga nggak spoiler yaaah..

REVIEW NEGRI 5 MENARA:

Terlepas dari keberhasilan novelnya menyabet best seller, saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membaca novelnya, padahal sudah banyak teman yang merekomendasikan buku itu kepada saya. Karena saya belum pernah membaca bukunya sama sekali, jadi pikiran saya cukup kosong dari presepsi dan juga beban ekspektasi yang biasanya ditanggung oleh orang yang sudah terlebih dahulu membaca novel Negri 5 Menara ketika menonton film ini.

Kesungguhan. Menurut saya itulah tema yang diangkat di film ini. Sesuai dengan tag filmnya “man jadda wajada” yang artinya “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.” Sebelum menonton film ini saya sempat melihat trailer film Negri 5 Menara dan saya langsung berfikiran kalau film ini akan sama dengan film Laskar Pelangi yang mengedepankan perjuangan (sekelompok) anak yang kurang beruntung dalam menjalani sekolah.

Tapi di menit-menit awal film saya langsung merasakan perbedaan feel dengan Laskar Pelangi ketika dipertemukan dengan Point of Attack film yang menggambarkan kalau orang tua dari Alif (Gaza Zubizareta) menginginkan Alif untuk melanjutkan sekolah di Pesantren Madani. Alif yang semula menginginkan untuk melanjutkan sekolah di Bandung dan melanjutkan ke ITB agar dapat menjadi seperti idolanya Habibie menolak permintaan tersebut. Namun ayahnya mengajari untuk menjalani dulu apa yang sudah dipilihkan oleh ibunya (yang justru menginginkan Alif menjadi tokoh yang memikirkan umat seperti Buya Hamka) sebelum Alif menolaknya.

Berbekal keyakinan yang setengah hati ketika pertama kali masuk di Pesantren Madani, Alif mulai diajari arti kata ‘kesungguhan’ oleh Ustad Salman (Donny Alamsyah)  gurunya dan juga kelima teman-teman yang menamakan dirinya Sohibul Menara. Alif bersama kelima temannya yaitu Said (Ernest Samudra), Baso (Billy Sandy), Atang (Rizki Ramdani), Raja (Jiofani Lubis), dan Dulmajid (Aris Putra) kemudian memantapkan impian mereka untuk berfoto dengan menara-menaranya masing-masing di lima negara yang berbeda.

Sepanjang film keenam Sohibul Menara ini dihadapkan dengan beberapa masalah yang membutuhkan kesungguhan dalam menyelesaikannya. Dari masalah kecil seperti ingin menonton Thomas-Uber Cup sampai dengan masalah yang besar seperti pementasan yang hampir gagal karena salah seorang Sohibul Menara harus pulang kampung. Berbagai macam masalah yang timbul perlahan mendeliver pesan ke penonton kalau dengan kesungguhan, seberat apapun masalah yang timbul maka akan ada jalan keluarnya.

Kalau dari cerita sudah tidak perlu diragukan lagi, secara film ini diangkat dari novel best seller dan skenarionya ditulis oleh seorang Salman Aristo yang menurut saya merupakan penulis skenario nomor satu di Indonesia saat ini. Di film ini Salman Aristo berduet dengan Rino Sardjono yang merupakan penulis muda berbakat yang menurut saya cukup menjanjikan kedepannya.

Penulisan skenario yang kuat juga didukung oleh soundtrack yang mengalir dan pas dengan setiap adegannya, menurut saya Yovie cukup berhasil membuat penonton larut dengan nada-nada yang mengiringi mata dalam menonton adegan demi adegan di film ini.

Pemilihan aktor juga patut diacungi jempol di film ini. Akting Atang dan Baso yang terasa mengalir sekali benar-benar membuat saya salut, ditambah logat yang (menurut saya) terasa asli. Alif disini seperti terintimidasi oleh akting Atang dan Baso yang sangat menonjol, menjadikan Alif justru terlihat seperti bukan pemeran utama. Tapi terlepas dari itu semua aktor yang bermain di film ini cukup memuaskan.

Yang saya kagumi lagi adalah art directornya Eros Eflin yang membuat penonton (khususnya saya) menjadi yakin kalau kita sedang berada ditengah-tengah tahun 1980an. Suasana ketika Alif dan teman-temannya pergi ke Bandung, mobil-mobil, sepeda, bahkan keadaan Pesantren Madani yang saya yakin keadaan pesantren aslinya tidaklah seperti itu. Saya benar-benar terbius dengan balutan art yang dihasilkan film ini.

Terakhir adalah pemilihan sutradara yang jatuh pada Affandi Abdul Rahman. Pada awalnya saya sempat meragukan hasil dari sutradara muda ini karena saya belum pernah menonton hasil karyanya secara utuh. Satu-satunya film karya Affandi Abdul Rahman yang saya sudah tonton adalah Heart-Break.com, itupun cuma seperempat akhirnya saja sehingga saya tidak bisa menilai secara utuh karyanya. Namun secara keseluruhan, Affandi Abdul Rahman berhasil mendirect film Negri 5 Menara ini dengan baik sekali.

Kesimpulannya adalah menurut saya film Negri 5 Menara ini sangat dekat dengan kita, terlebih dengan tema yang menggugah setiap orang yang mendengarnya. Siapa orang yang tidak mau menjadi sukses? Pasti semua orang ingin menjadi sukses. Namun apa yang harus dilakukan oleh orang sukses? Ya, yang harus dilakukan oleh orang sukses adalah mengaplikasikan kalimat “man jadda wajada”. Secara pribadi saya justru tersentuh dengan perjuangan Alif, terlebih karena saya sendiri tidak berhasil menyelesaikan kuliah saya sampai selesai. Maka ada beberapa adegan ketika Alif bimbang melanjutkan atau tidak sekolahnya, saya merasa tersentuh dan dekat sekali dengan Alif. Saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh semua kalangan karena pesan moral yang disampaikan disini sangatlah mengena dihati. Rating dari saya 3 ½ dari 5 bintang untuk film yang akan tayang tanggal 1 Maret 2012 mendatang ini.

Advertisements

~ by tukangbikinfilm on February 21, 2012.

9 Responses to “Review #N5MtheMovie”

  1. Argh Kiki…
    Finally membaca tulisan lo itu sesuatu 🙂
    Nice review

    Join Fan Pages VIVAlog
    Best Regards, Gal’s

  2. Cieeee menaaang 😀

  3. Selamat ya 🙂
    reviewnya emg bagus,,,ane jd bljr nih,,maklum blm prnah bkin ripiw hhihihi

  4. Menarik sekali membaca review yang berimbang seperti ini..
    Good job Mas.. 🙂

    Btw, selamat ya atas terpilihnya review ini sebagai yang terbaik dari Vivanews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: